Jumat, 07 Februari 2014

Akan Kah Semuanya Hanya Impian Belaka


Kau tau apa itu keinginan? Atau pernahkah kau menginginkan sesuatu ? Mungkin dirimu dan aku sama-sama menginginkan sesuatu. Ketika masih kecil  aku ingin menjadi orang kaya. Ingin sekali rasanya aku seperti orang – orang kaya , yang bisa makan sepuasnya, membeli apa saja yang mereka inginkan dan bisa memerintahkan orang lain seenaknya sendiri. Itu semua karena uang ….. ya uang. Uang bisa merubah segalanya. Ia dapat memerintah kita , merubah hidup kita, merubah lingkungan kita, merubah persepsi orang lain kepada kita, merubah hukum negara ini, dan yang terpenting merubah diri kita sendiri.
            Uang memang kebutuhan kita, hidup tak ada artinya jika  tanpa uang. Uang memanglah segalanya, bahkan uang dapat  membuat kita lupa akan daratan. Tapi, apalah artinya aku ini. Hidup ku sangatlah kekurangan, tak seperti kebanyakan orang-orang disekitar tempat tinggalku. Kadang aku berkhayal menjadi orang kaya. Orang yang punya banyak harta, disegani semua orang dan memiliki kedudukan.  Tetapi hal itu sangat bertolak belakang dengan pemikiran ayahku. Bagi beliau uang bukanlah segalanya. Yang terpenting menurutnya adalah akhlak dan perbuatan kita yang selalu bertaqwa kepada ALLAH SWT. Pernah   Kucoba mengutarakan keinginanku ini kepada ayahku. Satu-satunya keluarga yang aku miliki. Karena sejak aku lahir, ibu ku sudah meninggalkan aku untuk selamanya. Bahkan sebelum aku dapat mengenali wajahnya.  Tapi, ayah  tak pernah mempedulikan ocehan-ocehanku.
            Sampai suatu ketika, aku ingin  mengutarakan sesuatu yang menganjal di otakku. Sesuatu yang membuat hidup ku gelisah. Tapi, aku takut mengutarakannya. Aku takut menambah beban pikiran ayah, aku takut ayah sedih.
“ ayah,,,ada yang ingin ranti bicarakan dengan ayah”kata ku takut-takut.
“ ada apa nak” jawab ayah.
“ ranti ingin seperti anak-anak yang lain yah” kata ku lagi.
Ayah langsung menatap ku dan menjawab “ bukan kah kamu sudah sama dengan yang lain nak” .
“ maksud ranti, ranti ingin sekolah tinggi seperti orang lain yah. Menimba ilmu setinggi-tingginya dan menjadi orang yang sukses” sambungku.
“ baiklah nak,, jika itu keinginan kamu ayah akan berusaha sekeras tenaga untuk mewujudkannya. Ayah pun rela mati demi kebahagiaan kamu nak” kata ayah dalam.
“ tidak perlu yah, cukup ayah selalu ada disamping ku. Aku sudah bahagia” jawabku sambil tersenyum menatap nya.
“ kamu memang harta ayah di dunia ini yang paling berharga nak” kata ayah.
            Hari-hari ku lalui dengan ayah. Sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tegar. Yang tak mudah menyerah menghadapi semua kenyataan dan rintangan yang menghadang. Dan tak lama lagi Ujian Akhir Nasional akan di laksanakan. Hati ku was-was menanti nya. Menjelang UAN aku semakin sibuk dengan urusan sekolah, les ini, les itu… sampai-sampai aku tak memantau kesehatan ayah tercinta ku lagi.
Sebelum berangkat sekolah  aku berkata kepada ayah, “ ayah, hari ini aku UAN”.
“ iya nak,, jawablah dengan benar. Dan yakinlah ALLAH akan selalu membantumu” kata ayah.
“ baik ayah, aku akan memberikan yang terbaik buat ayah”, jawabku sambil mencium tangan ayah.
“ ya sudah,, hati-hati di jalan ya nak”  kata ayah sambil melambaikan tangannya kepada ku.
             Yaa,,,,,, aku akan memberikan yang terbaik buat ayah. Aku tidak ingin ayah kecewa dengan nilai ku. Aku pun belajar dengan sungguh-sungguh. Semuanya hanya untuk ayah, dan apa pun hasilnya itu yang terbaik yang dapat aku persembahkan kepada ayah.
            Hari ini adalah hari penggumuman hasil ujian. Semua anak didampingi oleh kedua orang tua mereka, tapi berbeda dengan ku. Aku hanya  datang seorang diri. Ya,,,, aku memang berbeda dengan mereka dan aku bukanlah mereka.  Hati ku DAG-DIG-DUG menunggu hasilnya. Tak lama kemudian, kepala sekolah ku Bpk. Dahi’I memberikan amplop hasil ujian kepada kami.  Ku lihat sekelilingku, berbagai ekspresi teman-teman ku saat melihat hasilnya. Ada yang menanggis, ada yang bersorak gembira dan berbagai ekspresi lain. Walaupun kata KepSek kami lulus 100%, aku tetap takut untuk membuka nya. Aku ingin membukanya bersama ayah. Dapat ku bayangkan, pasti ayah akan senang melihat hasil UAN ku.
            Saat ku masih asyik dengan khayalanku. Tiba-tiba tetangga ku terpogoh-pogoh menghampiriku. Dapat terlihat dengan jelas, wajahnya memancarkan rasa cemas dan was-was. Ada apakah ini, apa yang terjadi dengan ayahku. Pikiranku pun berkecamuk.
“ rantiii,,, rantiiiii,,,,” kata pak mitro dengan muka yang was-was.
“ iya,, ada apa pak mitro?” Tanya ku.
“ kamu harus pulang sekarang nak, ayah mu,,,” kata pak mitro.
“ayah kenapa pak?,,, tidak terjadi apa-apakan dengan ayah” jawab ku gundah.
“ pokoknya kamu harus pulang, lihatlah sendiri apa yang terjadi” kata bapak itu lagi.
            Dengan sangat tergesa-gesa aku mengayuh sepeda tua ku. Tak ku hiraukan lagi pak mitro yang tertinggal. Ataupun acara penggumuman dan perpisahan yang belum usai. Yang ada di pikiran ku hanyalah AYAH. Aku tak ingin terjadi sesuatu apapun dengan ayah.

            Hatiku bertambah gundah ketika ku lihat banyak orang memakai baju berwarna gelap berjalan ke arah rumahku. YA ALLAH, ada apa dengan ayahku..
“ ayahhhh,,, Ayaahhhhhh” teriak ku.

“ duduklah dulu nak” kata bu mitro.
“ayah mana bude” Tanya ku.
“ sabarlah nak, ALLAh sedang menguji kamu, lihatlah ayahmu di dalam kamarnya” kata bu mitro.
            Dengan masih memegang amplop hasil UAN, aku masuk ke dalam kamar ayah. Air mata ku langsung menetes, mengapa ayahku dikerubuti orang banyak. Orang-orang pun memberiku jalan ketika mereka melihatku memasuki kamar. Terlihat oleh mataku seorang lelaki terbujur kaku di atas ranjang , dengan ditutupi sebuah jarit. Seketika itu langsung kubuka amplop q.
“ayaahhhhhhhhhhhh,,,,” jerit ku histeris.
“ mengapa ayah meninggalkan aku sendiri didunia ini. Mengapa ayah begitu tega denganku, ini yah,,aku bawaakan hasil Ujianku. Coba ayah buka, aku juara 1 ayah. Kenapa ayah hanya diam, ayo ayah ambil amplop ini” ucap ku sambil memeluk ayah yang sudah terbujur kaku.
“ ikhlaskan kepergian ayahmu nak, jangan kau tangisi terus seperti ini. Doakan saja agar beliau tenang di sisi- NYA” kata bu mitro sambil memelukku.
            Saat itu dunia ku rasakan berhenti berputar dan aku seperti tak ada tempat lagi tuk berpijak. Tak ada lagi semangat ku untuk menjalani hidup ini. Ibu ku sudah meninggalkan ku ketika aku masih bayi merah. Kini giliran ayah yang menyusul ibu, dan meninggalkan aku sendiri. Namun aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Aku harus tetap menjalani hidup ini walau seorang diri. Karena aku tak tau apa rencana ALLAH nanti.
             Hidupku begitu tak beraturan saat ayah meningalkanku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Hanya  satu hal yang terlintas dibenakku, bagaimana caranya aku mendapatkan UANG. Yaaaaa,,,,, uang, tanpa uang aku tak akan mampu bertahan hidup. Tapi, kini tak ada lagi yang bisa  memberiku uang. Tak ada pula yang mau menerima ku bekerja dengan ijazah SMP ku. Kenapa didunia ini harus uang yang selalu diutamakan. Kemudian aku memutuskan untuk hijrah ke ibukota. Hanya berbekal uang sumbangan dari para tetangga ku, aku pun memulai petualanganku di kota itu.
            Bis yang ku tumpangi pun menurunkan aku di terminal induk Karang anyar. Begitu ramainya daerah sekelilingku, sampai-sampai dadku terasa begitu sesak. Karena begitu banyaknya orang berdesak-desakkan di terminal itu. Langkahku gontai meninggalkan stasiun. Aku tak tau harus kemana, kaki ku melangkah menyusuri jalan yangada di depan mataku. Tak lama kemudian terdengar suara adzan ashar, kemudian ke cari asal suara itu. Mungkin aku dapat beristirahat sejenak sambil sholat.
Aku pun sholat dengan khusyuknya, ku lantun kan berbagai doaku. Setelah selesai sholat aku pun mencari tas ku  yang ku letakkan tak jauh dari tempat  aku sholat. Namun, yang kucari-cari pun tak terlihat. Tak terasa air mataku pun menetes, uang ku yang tak seberapa pun ikut lenyap bersama tas itu. Kini aku tak tau lagi, dengan apa aku menyambung hidup di kota yang begitu kejam ini.
“ mencari apa nak?” Tanya seorang bapak-bapak.
“ maaf pak, apakah bapak melihat tas tergeletak disini?” jawab ku singkat.
“ maaf sekali nak, bapak tidak melihatnya. Apakah adek orang baru disini?” Tanya bapak itu ingin tau.
“ iya pak. YA ALLAH, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada ku?” kataku pilu.
“  sabarlah nak, inilah kerasnya dunia ini. Kita tak boleh lengah sedikit pun” hibur orang tua itu.
“ pak, bisakah saya bertemu dengan pengurus masjid ini?” Tanya ku.
“ saya pengurus mesjid ini nak, “ jawab bapak itu singkat.
“ bolehkah saya menumpang tidur di masjid ini selama beberapa hari dulu. Saya tidak mempunyai tempat tinggal disini.” Jelas ku lagi.
” baiklah nak, tapi hanya beberapa hari saja. Kau bisa tidur digudang masjid iitu nak” jawab bapak itu iba.
“ terimakasih banyak pak, atas bantuannya” kataku lagi.
“iya,, sama-sama nak. Lain kali lebih berhati-hati lagi dalam bersikap dan menjaga milik kita. Karena kehidupan kota sangatlah kejam, sangat berbeda dengan kehidupan desa.” Jawab bapak itu sambil berlalu dari hadapan ku.
Yachhhhhh,, kini aku harus memulai semuanya dari NOL. Tanpa uang bekal sedikit pun.  Kini aku tak tau dengan apa ku menyambung hidup. Kalau tidur, aku bisa  tidur di gudang masjid, jika haus aku masih bisa  minum air keran, tetapi,,,, jika aku lapar, dengan apakah aku menahannya. Kali ini aku benar-benar bergantung pada belas kasihan orang lain. Tapi, aku tak boleh mengemis.
Hari itu, aku benar-benar kelaparan. Karena sudah 2 hari aku tidak makan, yaitu sejak tas ku di curi orang. Wajahku terihat sangat pucat dan badanku juga gemetaran. Tapi, untunglah ada penjaga masjid yang sangat baik hati. Beliau memberiku sebungkus nasi dan air putih. Mungkin beliau juga prihatin melihat keadaanku yag sangatlah miris ini. Beliau pun juga menawari aku pekerjaan, mengajari anak-anak mengaji. Dengan senang hati aku terima tawaran itu. Karena aku sudah terbiasa membantu Alm. Ayah untuk melajari anak-anak TPA di desa ku.
Dengan adanya gaji dari mengajar itu, aku memulai merintis kehidupan k di kota. Dengan modal itu aku membuka usaha gorengan dan terima pesanan kue. Sampai suatu hari, langit terlihat sangat mendung. Tetapi, di seberang jalan tempatku berjaualan ada seorang ibu-ibu berdiri di pinggir jalan. Padahal hari sudahlah magrib dan harinya pun juga mendung.
“ permisi,,, ibu sedang apa di sini. Hari hampir hujan bu” Tanya ku ramah.
“ saya menunggu jemputan nak, berpuluh-puluh menit saya menunggu nya. Tapi ,tak kunjung datang” sahut ibu itu.
“owwwww,,, bagaimmana kalau ibu menunggu di warung saya saja. “ tawar ku.
“ terimakash nak, nanti saya merepotkan” tolak ibu itu ramah.
“tidak kok bu, ayolah bu. Sudah gerimis ne, nanti ibu kehujanan” bujuk ku.
“ baiklah nak, ibu ikut denganmu. Dimana warung kamu?” jawab ibu itu pasrah.
“ itu bu, warung gorengan yang kumuh  di seberang. Mari bu kita menyeberang ke sana” kataku.
Kami pun buru-buru berjalan ke warung ku, karena gerimis sudah datang. Nampak terlihat jelas oleh ku ibu itu kikuk ketika meinjakkan kakinya di warung gorengan kumuh ku. Bisa jadi inilah pertama kali nya ibu itu meiinjakkan kakinya di warung gorengan. Dari penampilannya saja terlihat elit, dan pakaian yang dikenakannya pun berkelas. Pastilah ibu itu dari kalagan kelas atas. Tak lama hujan pun berhenti, dan sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan warung ku. Keluar seorang anak laki-laki yang terlihat ganteng dan COLL mehampiri ibu itu dan meajaknya pulang. Sepertinya orang itu adalah anak ibu yang mengaku namanya yanti.  Tak lupa pula ibu yanti berpamitan denganku, dan sebelum mobil itu melaju diatas aspal yang licin dapat ku anak ibu itu tersenyum tipis ke arahku.
Senyum itu terbayang-bayang sampai berhari-hari kemudian. Sampai 1 bulan kemudian ibu yanti dating lagi kewarungku, kali ini beliau tidak sendirian melainkan bersama anaknya. Hati ku berdebar tak karuan ketika melihat laki-laki itu lagi. Ternyata ibu itu datang ke warungku, untuk menawari aku sebuah pekerjaan. Menjadi tukang masak di rumah beliau. Namun setelah ku fikir-fikir ku terima juga tawara itu.Ternyata ALLAH masih menunjukkan kuasanya kepadaku. ALLAH menemukan aku pada orang-orang yang baik.
“ hai, kamu ranti ya” sapa anak bu yanti.
“ iya, apa tuan membutuhkan bantuan saya” jawabku kikuk.
“ tidak usah panggil aku tuan donk,, kita kan seumuran.kenapa kamu tidak melanjutkan sekolah” sahutnya santai.
“ ehmmmm,,, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi didunia ini. Jadi aku harus membiayai hidupku sendiri, tidak ada waktu ku lagi untuk sekolah” jawab ku lirih dengan suara yang hamper tak terdengar.
‘ maafkan aku,, kenalkan nama ku Novan. Aku anak bungsu ibu yanti, kalau boleh tau seharusnya kamu kelas berapa” jawabnya lagi sambil mengulurkan tangannya.
“ kenapa harus minta maaf,kan kamu tidak salah apapun dengan ku. Aku seharusnya kelas 1 SMA tahun ini. Kalau kamu?” jawabk sambil menerima uluran tangannya.
“ aku kuliah di Sidney, baru semester 1” katanya lagi.
Perbincangan kami pun terhenti karena aku harus bekerja, menyiapkan makan siang untuk keluarga itu. Dalam hati diam-diam aku mulai mengagumi sosok kak novan, dia selalu ramah terhadap semua orang persis seperti ayah an ibunya. Ingin sekali aku memiliki keluarga seperti ini. Keluarrga yag harmonis dan utuh,yaaaaaaaaaahhhhhhhhhh itu hanyalah hayalan ku saja. Mana mungkin aku bisa memiliki keluarga seperti itu, toh ayah dan ibu ku sudah meniggalkan ku.
Ketika aku belum selesai menyiapkan makanan siang dimeja makan, keluarga itu sudah siap semua dimeja makan. Hari ini hari minggu, jadi wajar kalau mereka kumpul begini. Makin iri aku melihatnya. Ketika aku sudah selesai menyiapakan semua nya, aku pun pamit untuk kebelakang. Tetapi, buy anti menahanku dan meajakku makan bersama mereka. Siang ini pun aku akan bersama bu yanti dan kak novan, serta pak broto. Tapi, ketika belum selesai makan pak broto sudah meninggalkan meja makan. Karena beliau mendapat telepon dari rekan kerja nya dan harus segera kembali ke kantor.
“ mau kemana kamu nak, nati dulu kamu membereskan mejanya. Ibu mau berbicara denganmu” kata bu yanti lembut.
“ iya bu” jawabku.
“ kamu ingin sekolah nak?” Tanya bu yanti.
“ ayo nak, jawab saja pertanyaan ibu. Tidak usah sungkan-sungkan, kamu kan sudah baik ada keluarga ini” Tanya bu yanti lagi.
‘ sebenarnya saya masih ingin sekolah bu. Tapi, sepertinya itu hanya impian belaka” jawabku sopan.
“ siapa bilang hanya impian, mulai besok kamu akan sekolah lagi. Ibu yang akan membantumu mewujudkan impianmu” kata bu yanti.
“ terimakasih bayak bu,, ibu banyak membantu hidup saya” jawab ku sambil memeluk bu yaanti, tak terasa air mataku menetes.
“ jangan nangis dunk,, sini peluk aku juga” sela kak novan yang sedari tadi hanya mendengarkan.
Sejak hari itu aku benar-benar bahagia, kini aku kembali mendapat kasih-sayang dari orang tua. Dan yang paling membuatku bahagia adalah aku semakin dekat dengan kak Novan. Hubungan diantara kami terlihat lebih dari sekedar adik dan kakak, aku tak tau apa itu namanya.
“ ranti, kenapa malam-malam begini masih diluar?” sapa kak novan mengejutkan ku.
“ aku tak bisa tidur kak, gak tau juga kenapa. Firasat ku gak enak?” jawabku sekenanya.
“ ahhhh,, mungkin itu hanya perasaan kamu saja. Ada yang ingin aku katakana padamu” katanya lagi.
“ ngomong aja kak” kataku.
“ tapi, kalau aku ngomong ini, kamu tak akan marah kan?” tanyanya pelan.
“ engga kakak ku sayang, ngomong aja susah” kata ku.
“ehmmmm,, sebenarnya sejak pertama kali aku melihat mu, aku sudah jatuh cinta padamu. Tapi, aku takut mengatakannya. Asal kamu tau saja, sebenarnya akulah yang membujuk ibu agar membawa kamu kesini dan menyekolahkan kamu lagi” katanya pelan dan hamper tak terdengar oleh telingga ku.
“ benarkah kak?, aku banyak berhutang budi sama kakak. Aku pun merasakan hal sama” kataku tak percaya.
“ mau kah kamu jadi pacarku ranti, pacar pertama dan terakhirku?” Tanya kak novan lagi.
“ iya, aku mau kak” kataku haru.
“ terimakasih ranti. Besok aku harus kembali lagi ke Sidney, maukah kamu menungguku kembali lagi?”Tanya kak novan.
“ iya kak, aku akan setia di sini menunggu kakak, sampai kakak pulang. Aku saying kakak” jawabku.
‘ aku juga sayang sama kamu “ kata kak novan sabil memelukku.
Malam itu aku tak bisa tidur. Aku baru saja merasakan bahagia telah menjadi pacar kak novan. Tetapi, baru sekejap itu aku rasakan, aku harus merelakan kepergiannya entah sampai kapan. Hati ku pun pilu ketika aku mengantarkan kakak sampai ke bandara.
“ kaaaaakkkkkk,” teriakku.
“ iya, jangan nanggis lagi dong. Aku gak mau kamu nanggis, aku sayang kamu dan tungg aku kembali” kata kak novan sambil melangkah meninggalkan ku, karena pesawat yang di tumpanginya akan segera take OFF.
Setelah sampai di kamar, aku pun menanggis sepuas-puas ku setelah aku sekuat hati menehan tanggis ku ketika masih adaa kakak. Meluapkan segala kekecewaanku, sampai ibu menghiburku dengan segala upayanya. Belum sempat aku menghela nafas. Kami sudah mendapat telepon dari petugas penerbangan, bahwa pesawat yang di tumpangi kak novan mengalami kecelaakaan dan meledak diudara. Keberadaan jasad kak novan pun belum diketahui.
Saat itu hatiku sangat hancur, begitu sakit rasanya . dunia rasanya berhenti berhenti berputar. Pikiranku berkecamuk, kenapa jalan hidupku begitu tragis, apakah impian-mpian ku tak dapat menjadi kenyataan. Kini Aku tak tau lagi, apakah kak novan masih bisa kembali lagi untukku dan menemani hari-hari ku  lagi seperti kemarin. Sampai kapan pun aku akan menunggu kakak kembali, karena aku sayang kakak,,,

***********************